Senin, 24 Januari 2011

Makalah Museum Loka Jala Crana


BAB I

PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang

Kita tahu kalau kita mengerjakan sesuatu atau membaca sesuatu ada yang melatar belakanginya. Begitu juga penulis dalam menyusun karya tulis ini mempunyai latar belakang tersendiri diantaranya adalah kewajiban penulis siswa kelas 3 yang di tuntut untuk membuat sebuah karya tulis yang bermanfaat. Penulis ingin memperluas wawasan dalam pembuatan karya tulis ini penulis akan mengemukakan tentang sejarah “Museum Loka Jala Crana” Surabaya. Dan yang terakhir penulis agar mendapatkan pengalaman yang luas akan menyusun karya tulis dengan baik.
          Demi tercapainya kualitas pembelajaran yang baik, tidak hanya bisa dilakukan melalui proses belajar mengajar di dalam kelas saja. Siswa justru akan merasa jenuh dan penasaran, terutama terkait dengan materi yang dijelaskan oleh guru tersebut. Misalnya saja masalah Hankam, khususnya keamanan dirgantara. Untuk itu semua kegiatan observasi, yaitu pengenalan dan penelitian secara langsung pada objek-objek yang berhubungan dengan materi yang disampaikan tersebut, menjadi sangat penting untuk dilaksanakan.
          Dengan observasi, maka siswa tidak hanya mengetahui, akan tetapi siswa juga dapat mengenal dan memahami objek secara langsung. Karya wisata merupakan salah satu kegiatan observasi yang efektif sebagai penunjang proses belajar mengajar di sekolah. Di Indonesia terdapat banyak tersebar Museum-Museum tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, Museum Loka Jala Crana adalah salah satunya. Berbeda dengan Museum-Museum perjuangan yang lain, di Museum ini dipamerkan berbagai jenis senjata hingga pakaian perjuangan yang pernah dimiliki Bangsa Indonesia, khususnya TNI AL. Selain itu di Museum yang berlokasi di Surabaya ini, terdapat pula diaroma-diaroma perjuangan Bangsa Indonesia, khususnya TNI AL dalam merebut dan Jala Crana merupakan satu-satunya Museum TNI AL di Jatim.
Pengelolaanya pun langsung ditangani oleh TNI AL itu sendiri. Tidak banyak yang mengetahui keberadaan Museum ini, termasuk siswa-siswi SMA Negeri 1 Cepu sendiri, hanya sebagian kecil yang mengetahuinya. Maka dengan diadakannya karya wisata ini diharapkan siswa-siswi dapat mengenal lebih dekat tentang kedirgantaraan Indonesia sehingga timbul rasa kebanggaan terhadap bangsa yang ternyata memiliki banyak peninggalan sejarah yang tidak kalah hebatnya dengan negara-negara lain.

1.2 Perumusan Masalah

Dalam perumusan masalah ini penulis akan memberikan sebagian kecil yang terdapat dalam museum khusunya bagian pembinaan benda – benda
Adapun rumusan masalah tercantum di bawah ini
1. Bagaimana sejarah di dirikanya Museum TNI AL Loka Jala Crana?
2. Bagaimana perkembangan Museum TNI AL Loka Jala Crana dari masa ke masa?
3. Bagaimana usaha pelestarian benda – benda, dokumentasi, pameran dan     administrasi?

1.3 Pembatasan Masalah

Dalam penulisan karya tulis ini, penulis membatasi masalah yang akan dibahas, sehingga pembaca dapat mengetahui secara garis besar isi dari karya tulis ini, yaitu sebagai berikut:
a. Sejarah berdirinya Museum Pusat TNI-AL Loka Jala Crana,
b. Perkembangan Museum Pusat TNI-AL Loka Jala Crana,
c. Koleksi-koleksi yang dipamerkan di Museum Pusat TNI-AL Loka Jala Crana.
 

1.3 Tujuan Penelitian

Di samping tugas dari sekolah tujuan penelitian ini mempunyai arti yaitu diantaranya:
1. Untuk mengetahui nilai budaya yang tinggi yang pernah dicapai oleh suatu wilayah
2. Untuk melatih pembuatan karya tulis berikutnya
3. Untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang sejarah dan benda-benda peninggalan sejarah yang ada di Indonesia
4. Menumbuhkan rasa kebanggaan siswa terhadap kebesaran dan kejayaan bangsa Indonesia pada masa lalu
5. Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Ujian Nasional (UN)

1.5 Metode Penelitian

Adapun metode yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini, adalah sebagai berikut:
1. Metode Observasi
Yaitu metode penelitian yang langsung mengunjungi objek karya tulis, yakni Museum TNI AL Loka Jala Crana di Surabaya.
2. Metode Kepustakaan
Yaitu metode penelitian dengan mengumpulkan data yang berasal dari beberapa buku sumber yang dianggap relevan.


1.6 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN, meliputi:
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Perumusan Masalah
1.3 Pembatasan Masalah
1.4 Tujuan Penulisan
1.5 Metode Penulisan
1.6 Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN UMUM MUSEUM TNI AL LOKA JALA CRANA SURABAYA, yang mencakup:
2.1 Sejarah Berdirinya Museum TNI-AL Loka Jala Crana
2.2 Kegiatan-Kegiatan Dalam Museum TNI-AL Loka Jala Crana
2.3 Fasilitas-Fasilitas Museum TNI-AL Loka Jala Crana
2.4 Koleksi-Koleksi Museum TNI-AL Loka Jala Crana
BAB III PENUTUP, terdiri atas:
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran



BAB II

TINJAUAN UMUM MUSEUM TNI AL LOKA JALA CRANA SURABAYA

 

2.1 Sejarah Berdirinya Museum TNI-AL Loka jala Crana

Museum Loka Jala Crana terletak di Moro Rembangan di Akademi Angkatan Laut Indonesia ke arah selatan dari Surabaya. Ini adalah Museum peralatan pertempuran Angkatan Laut Indonesia. Juga satu koleksi planetarium dan astronavigadium. Asal usul dari Museum Loka Jala Crana adalah berdasar pada 19 September 1969 dengan nama museum AKABRI LAUT, baru pada 10 Juli 1973 statusnya adalah ditingkatkan menjadi musium TNI-AL. Pada 6 Oktober 1979 nama berubah untuk menjadi Museum TNI-AL Loka Jala Srana. Museum TNI-AL Loka Jala Crana berada di Morokrembangan Surabaya di pusat Akademi TNI-AL (AAL) (Indonesia Maritime Marine Military Academy) yang mendidik calon perwira TNI-AL tingkat Academy dan Commando, TNI-AL Education (KODIKAL) yang mendidik kandidat dari Tamtama, Bintara, calon perwira dari Bintara (CAPA) dan alumni perguruan tinggi serta pendidikan lanjutan heroik. Itu kompleks adalah dikenali sebagai "Bumi Moro" Surabaya. Museum ini mendemonstrasikan dan menyelamatkan objek bersejarah yang dimiliki serta diterapkan oleh TNI-AL selama revolusi fisik hingga sekarang dalam bentuk jenis meriam kapal perang, pesawat, helikopter, artileri medan, KRI Dewa Ruci monumen dan pertahanan udara air serta benda bersejarah lain seperti meriam kapal "HRMS DE ZEVEN PROVINSIEN". KRI DEWARUCI adalah jenis kapal layer tiang tinggi, milik TNI AL sering melakukan angkutan laut dari kehendak baik untuk beberapa bulan dan perhentian di/dalam kota pelabuhan di Asia, Afrika dan Eropa. KRI DEWA RUCI komandan satu ditugaskan petugas dari Letnan kolonel dari kesatuan pelaut. Kru (ABK) adalah berjumlah 75. Melakukan aktivitas rutin seperti praktek dari Kartika Jala Krida (KJK) untuk Kadet Akademi Angkatan Laut (AAL) (Kadet dari Academy Maritime Military) tingkat III. Disana tersedia bangunan planetarium untuk melihat tata surya (astronomi), Bima Sakti. Planetarium adalah sebagai mendukung fasilitas untuk belajar kadet (taruna) telah mensupply pengetahuan ketika mereka melakukan suatu perjalanan di laut. Situasi dari bintang bisa menentukan posisi mereka untuk tinggal meliputi pergantian dari waktu. Bagaimana gerakan bintang pola calon arah dan waktu.Sebagai obyek wisata pendidikan bernuansa bahari, Akademi TNI Angkatan Laut terletak di Pantai Utara Surabaya dan berdiri di atas lahan seluas ± 52 hektar yang biasa kita sebut dengan Kawah Biru Bumimoro. Disinilah tempat penggodokkan dari para pemuda terbaik bangsa ini yang memilih TNI Angkatan Laut sebagai tempat pengabdian mereka kepada nusa dan bangsanya untuk dididik dan digembleng menjadi Perwira TNI Angkatan Laut yang tangguh.
Pendirian museum berdasarkan Skep Kasal No. Skep/11106/VII/1973, Tanggal 10 Juli 1973. Bangunan ini semula berfungsi sebagai Sarana Pendidikan Kadet AAL. Bangunan ini berdiri di atas lahan seluas 2,7 hektar.
             Gambar 1. MUSEUM LOKA JALA CRANA SURABAYA

Selain areal komplek AAL dengan segala fasilitas pendukung pendidikan dan latihan yang dimiliki, juga dapat disaksikan berbagai kegiatan Kadet baik yang berkaitan dengan kegiatan rutin kedinasan yang berciri khas TNI Angkatan Laut, maupun kegiatan-kegiatan Kadet lain yang bersifat ekstra kurikuler. Pintu gerbang yang megah yang bertuliskan Akademi Angkatan Laut dan Hree Dharma Shanty yang secara umum berarti “malu berbuat cela” akan menyambut kehadiran para wisatawan sejak begitu masuk AAL. Taman Mordofa dengan taman burungnya yang asri untuk dinikmati dan terdapat pula pahatan jangkar pada batu serta Tank PT 76 yang ditengkapi dengan Canon katiber 76 mm dengan berat ± 15 ton, merupakan kendaraan tempur amfibi lapis baja Korps I Marinir.
Patung Kadet yang diabadikan menjadi monumen Hree Dharma Shanty, dengan sikap pandangan lurus ke depan mencerminkan jiwa seorang kesatria pemberani, pantang menyerah dan percaya diri bahwa tidak ada rintangan yang tidak bisa ditembus oleh seorang Kadet Laut.
Di dekat monumen, tepatnya di belakang dapat kita saksikan Monumen Karyono-Risdiyanto yang dibangun untuk menghormati 2 orang Kadet AAL Korps Marinir yang gugur saat melaksanakan latihan yang diwujudkan sebuah kendaraan lapis baja panser amfibi tipe BTR-60 dengan berat total kurang lebih 14 ton. Selanjutnya para wisatawan dapat menyaksikan fasilitas Audio Visual Multy Purpose (AVMP), di sini kita dapat menyaksikan film Sekilas tentang AAL, Sekilas Kehidupan Kadet AAL dan film kegiatan Kadet saat melaksanakan Kartika Jata Krida.
Kemudian di Gedung Komplek Ki Hajar Dewantara, merupakan tempat belajar atau ruang kelas para Kadet, di mana setiap ruangnya dilengkapi dengan OHP dan AC. Di gedung alat peraga Sapudi, terdapat alat instruksi bagi Kadet korps Pelaut, Teknik, Elektronika, Administrasi dan Marinir.
Di Gedung Bawean, terdapat laboratorium-laboratorium dan Simulasi Anjungan Kapal (Moro Bridge Simulator) yang merupakan tempat berlatih bagi para Kadet maupun Perwira Siswa Korps Pelaut sebelum mereka melaksanakan latihan praktek di kapal. Masih banyak lagi obyek wisata yang menarik terdapat di AAL diantaranya Planetarium dan Museum AAL yang dapat menggugah semangat dan menambah wawasan para generasi muda tentang dunia bahari. Planetarium di Indonesia hanya ada dua, satu di Taman lsmail Marzuki Jakarta dan satu di AAL Surabaya.
 
v Fasilitas Publik :
a)  Ruang pameran tetap
b)  Ruang informasi
c)  Tempat penjualan tiket
d)  Perpustakaan
e)  Toilet
f)   Parkir

v Fasilitas Museum :
a)  Ruang Administrasi ( Kantor )
b)  Ruang Penyimpanan Koleksi

v Waktu Buka :
Hari Senin-Minggu : Pukul 08.00 s.d 14.00

2.4 Koleksi-Koleksi Museum TNI-AL Loka jala Crana

Museum ini dibagi menjadi 7 ruangan yaitu :
-     Ruang Sudarsono,  
-     Ruang Armada,
-     Ruang Senjata,
-     Ruang Kapten Pahlawan Laut,
-     Ruang Pimpinan,
-     Ruang Dewaruci,
-     Ruang Taruna
Dalam ruangan-ruangan tersebut banyak benda-benda masa lalu dan mempunyai nilai historis yang tinggi dengan perkembangan Bangsa Indonesia. Benda-benda bersejarah tersebut antara lain :


Ø Pataka atau Bendera Bersejarah
1.     Pataka : Komando daerah maritim-2 ( kodamar-2 )
Sk. Menpang AL : No. 5030.18. Tahun 1967
Tulisan : Patah tumbuh hilang berganti
Dipakai mulai tahun : 1967

2.     Pataka : Komando daerah maritim-4 ( kodamar-4 )
Sk. Menpangal : No. 5030.30.18. Tahun 1967
Tulisan : Jala Viveka Jaya
Dipakai mulai tahun : 1966

3.     Pataka : Komando daerah maritim-5 ( kodamar-5 )
Sk. Menpangal : No. 5030.30.18. Tahun 1967
Tulisan : Bahari Jaya Wohana Wangga
Arti tulisan : Keju spaah di laut sebagai sarana untuk mencapai tujuan
Dipakai mulai tanggal : 29 Juli 1967

4.     Pataka : Daerah angkatan laut-8
Tulisan : Jala Kartika Sakti
Arti tulisan : Seluas samudra, setinggi bintang loyalitas kita dalam mendarma bakti diri
Tahun : 1967

5.     Pataka : Komando daerah maritime-6 ( kodamar-6 )
Sk. Menpangal : No. 5030.18. Tahun 1967
Tulisan : Toma Kopa Mena
Arti Tulisan : Maju terus dengan semangat menendang segala rintangan
Dipakai mulai tahun : 1967


6.     Pataka : Komando Armada Samora ( KOARSAM )
Sk. Menpangal : No. 5030.41. Tahun 1966
Tulisan : Vira Bajra Jala Paksa
Arti tulisan : Secepat kilat menuju sasaran yang harus dihancurkan
Dipakai mulai tanggal : 7 Desember 1966

7.     Pataka : Komando Armada
Tulisan : Ghora Viramadya Jala
Dipakai mulai tahun : 1967

8.     Pataka : Panji TNI-AL
Tulisan : Jales Veva Jaya Mahe
Arti : Justru di laut kita jaya
Dipakai mulain tahun : 1949

9.     Pataka : Komando Armada Nusantara ( KORTAR )
Sk. Menpangal : No. 5030. 40. Tahun 1966]
Arti tulisan : Menguasai 7 lautan

10.  Pataka : Armada Republik Indonesia
Tulisan : Ghora Vira Madya Jala
Dipakai mulai tahun : 1949

11.  Pataka : A.L.R.I Devisi IV Kalimantan
Tulisan : Tunting sampai kaputing
Dipakai mulai Tahun : 1946

12.  Pataka : Komando kawasan maritim Tengah
Tulisan : Ketetapan dan Kekuatan
Dipakai tahun : 1949


13.  Duaja / Bendera Kapal dari : Komando Jenis Bantu
Tulisan : Maju dan menang

14.  Duajal / Bendera Satuan Kapal dari : Komando jenis penjelajah / pemburu

15.  Duajal / Bendera Satuan Kapal dari : Komando jenis Amphibi

Ø Kendaraan-Kendaraan Bersejarah
1.     KRI Todak
Data umum ;
No. Lambung 2512
Jenis : Kapal Buru Selam Troyer
Buatan : Rusia
Panjang : 120,6 meter
Lebar : 6,3 meter
Lebar : 12,5 meter
Dibuat tahun : 1956
Digunakan tahun : 1958
Mesin MPK : Diesel Mak 1.500 X 2
Kecepatan : 16,7 knot

2.     KRI Ratulangi
Data umum :
Type : Tendori
Negara asal : Rusia
Di Indonesia : Surabaya, 10 Agustus 1962
Daya Apung : 40700 Ton ( standard )
6.000 Ton ( penuh )
Ukuran : 450 X 49 X 17 feet
Mesin : Diesel
Kecepatan : 21 knot
ABK : 300 orang

3.     KRI Hang Tuah
Data umum :
Type : Korvet
Buatan : Belanda
Panjang : 65,825 meter
Lebar : 9,488 meter

4.     KRI 602
Data umum :
Type : Spee Boat Korvet
Buatan : Belanda
Panjang : 34,17 meter
Lebar : 3,115 meter

5.     KRI Patimura
Data umum :
Daya apung : 950 Ton ( standard )
Ukuran : 270,5 X 34 X 9 feet
Mesin : Diesel
Kecepatan : 22 knot
Persenjataan : meriam 2 X 3 inchi
Meriam 2 X 30 mm
ABK : 300 orang
 
6.     Kapal K-61 ( Kendaraan Angkutan Pasukan dan Arteleri )
Kapal ini telah berjasa ikut dalam operasi Tri Kora atau Jayawijaya ( pembebas Irian Barat ), operasi Dwi Kora ( Malaysia ), operasi Tumpase ( Sulawesi
Tenggara ), operasi Seroja ( Timor Timur ).

Ø Sepeda Motor
Merek : Sandap
Buatan : Jerman Barat
Sepeda motor ini adalah sepeda motor yang pertama kali dimiliki oleh dinas polisi TNI-AL yang sehari-harinya dipergunakan untuk mengawal panglima Armada di era tahun 1960-an.

Ø Mobil KPR 14 / 17
Mobil KPR 14 / 17 kendaraan pengangkut roket yang sanat ampuh daya gempurnya telah berjasa dalam operasi Tri Kora atau jaya wijaya.

Ø Senjata-Senjata Bersejarah
Kelongsongan Proyektil Peluru KRI Irian Proyek peluru meriam kaliber 120 mm yang berada dalam KRI terbesar yang pernah dimiliki oleh Tentara Nasianal Indonesia Angkatan Laut.
1.    Torpedo
Data teknis :
Panjang : 5,25 meter
Diameter : 4,5 meter
Berat lengkap : 1459 Kilogram
Motor TPO : 4 silinder
Bahan peledak : TNI 230 kilogram
Tekanan udara : 150 kg / cm
Jarak tembak : 3.000 yard
Mekanik penyumbat pistol impack

Diakhiri sejarahnya torpedo ini yang merupakan peninggalan Jepang pada saat PDI oleh angkatan laut Jepang pernah dipakai untuk melakukan penyerangan secara mendadak Armada Amerika Serikat di Perl Horbour pada tanggal 7 Desember 1941 selanjutnya dibawa ke Indonesia untuk menghadapi serangan balikan dari Amerika Serikat setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu tanggal15 Agustus 1945. Torpedo-torpedo yang ada di Indonesia berhasil memiliki Angkatan Laut Republik Indonesia dan pernah dipasang di salah satu kapal perang TNI-AL yaitu KRI Pulau Roti dan pernah dihancurkan 1956 kemudian tahun 1952 untuk operasi Tri Kora.

                Gambar 2. TORPEDO


Ø Pakaian-Pakaian Bersejarah

Ø Meja-Meja Bersejarah
1.      Meja Kasal Laksamana Madya. Meja ini dipergunakan oleh Kasal Laksamana Madya yang bernama R. Soebijakto yang telah yang telah berhasil mengembalikan “ALRI GUNUNG KE LAUT” pada bulan April 1948 – Juli 1959.
Kursi meja terakhir mantan Gubernur AAL ( Armada Angkatan Laut ), atas nama Frit Suak Laksamana Muda TNI ( Purn ) atau sebagai Direktur PT. Frida Agung Nusa, Jl. Praja V / 62 Kebayoran Lama Jakarta.
2.      Meja kursi bersimbul ( Koarsam ) Komando Armada Samudra ) dipakai Panglima Armada pada tahun 1970 – 1978. Sebuah bufet buku yang pernah dipergunakan oleh Panglima Armada S. Tahun 1970 sampai dengan 1978.

Ø Mesin Ketik Kasir

Ø Papan Piagam Bersejarah
Papan piagam ini diberikan kepada perwira 2 dan Tamtam A2 dari
Republik Indonesia Pulau Alor 717 untuk memperingati persahabatan ya persahabatan yang kuat antara angkatan laut Amerika Serikat dan
Republik Indonesia. Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno, tengah membuat Korps Kadet Armada Angkatan Laut sebuah Pataka Armada Angkatan Laut dengan motonya yang terkenal yaitu “ HREE DHARMA SHANTY “ pada tanggal 10Desember  1956
                Gambar 3. HREE DHARMA SHANTY


Ø Meriam kapal "HRMS DE ZEVEN PROVINSIEN"
Merupakan meriam yang terkenal dan menjadi salah satu koleksi andalan dari Museum Loka Jala Crana. Banyak pengunjung yang berminat untuk melihat serta memperhatikan meriam kapal “HRMS DE ZEVEN PROVINSIEN” karena memiliki nilai sejarah yang tinggi.

        Gambar 4. MERIAM KAPAL “HRMS DE ZEVEN PROVINSIEN”


Adalah jenis kapal layer tiang tinggi, milik TNI AL sering melakukan angkutan laut dari kehendak baik untuk beberapa bulan dan perhentian di/dalam kota pelabuhan di Asia, Afrika dan Eropa. KRI DEWA RUCI komandan satu ditugaskan petugas dari Letnan kolonel dari kesatuan pelaut. Kru (ABK) adalah berjumlah 75. Melakukan aktivitas rutin seperti praktek dari Kartika Jala Krida (KJK) untuk Kadet Akademi Angkatan Laut (AAL) (Kadet dari Academy Maritime Military) tingkat III. Kapal inilah yang menjadi koleksi kapal andalan dari Museum Loka Jala Crana karena kemegahan yang tampak pada kapal ini.


  
Gambar 5. KRI DEWARUCI

Ø Museum Planetarium
Museum Planetarium cukup langka di Negara Republik Indonesia, terdapat 3 Museum Planetarium di Negara kita ini yaitu di Jawa Barat (Jakarta) dan Jawa Timur (Surabaya), yang terbaru di Indonesia yaitu di Kalimantan. Museum Planetarium di Surabaya terletak di Moro Rembangan di Akademi Angkatan Laut
Indonesia ke arah selatan dari Surabaya. Itu kompleks adalah dikenali sebagai "Bumi Moro" Surabaya. Museum ini mendemonstrasikan dan menyelamatkan objek bersejarah yang dimiliki serta diterapkan oleh TNI-AL selama revolusi fisik hingga sekarangDisana tersedia bangunan planetarium untuk melihat tata surya (astronomi), Bima Sakti. Planetarium adalah sebagai mendukung fasilitas untuk belajar kadet (taruna) telah mensupply pengetahuan ketika mereka melakukan suatu perjalanan di laut. Situasi dari bintang bisa menentukan posisi mereka untuk tinggal meliputi pergantian dari waktu. Bagaimana gerakan bintang pola calon arah dan waktu.


        Gambar 6. RUANGAN MUSEUM PLANETARIUM

Informasi yang kami dapat di dalam Museum Planetarium yaitu :
Ditemukannya planet baru yaitu planet Shena sebagai pengganti planet Pluto yang di karenakan planet Pluto termasuk Asteroid atau planet kerdil. Yang menemukan planet Shena tersebut adalah Badan Atariksa di Amerika Serikat yang bernama “ NASA “
Pada tahun 2006 yang tugasnya menyelidiki benda – benda di luar angkasa.
Rasi Bintang adalah sekumpulan bintang yang apabila digabung – gabungkan akan mempunyai bentuk tertentu, biasanya Rasi Bintang digunakan sebagai petunjuk arah.
Macam-macam rasi bintang itu antara lain :
a.     Rasi Bintang Gubuk Penceng disebut juga Rasi Bintang Pari :
Rasi Bintang Gubuk Penceng / Rasi Bintang Pari merupakan gugusan bintang yang terdiri dari empat buah bintang, bentuknya menyerupai gubuk dan letaknya penceng.
b.     Rasi Bintang Waluku di sebut juga Rasi Bintang Orion :
Rasi Bintang Orion Rasi Bintang Waluku / Rasi Bintang Orion merupakan Rasi Bintang yang lain dan dapat dipergunakan untuk pedoman menunjukkan arah barat.
c.      Rasi Bintang Kalajengking disebut juga Rasi Bintang Scorpion :
Rasi Bintang Kalajengking / Rasi Bintang Scorpion merupakan Rasi Bintang yang dapat digunakan sebagai petunjuk arah tenggara
d.     Rasi Bintang Biduk di sebut juga Rasi Bintang Pedang Sunggang :
Rasi Bintang Biduk / Rasi Bintang Pedang Sunggang merupakan Rasi Bintang yang dapat digunakan sebagai petunjuk arah utara.
Berikut ini adalah 88
rasi bintang modern berdasarkan luasnya di langit, diukur dalam derajat persegi.



BAB III

PENUTUP



Dari uraian pembahasan karya tulis ini, penulis mengambil kesimpulan yaitu:
a.  Museum adalah suatu tempat menyimpan benda-benda yang bernilai sejarah agar tidak hilang dan rusak sehingga dapat dinikmati berbagai generasi, itu diharapkan mereka dapat mengetahui sejarah dan dapat menghargai hasil yang telah dicapai generasi terdahulu sehingga mereka dapat mengambil hikmah dan sejarah itu sendiri,
b.  Museum berfungsi menyimpan benda-benda yang bernilai sejarah yang patut mendapat perhatian umum. Selain itu museum merupakan sarana yang efektif untuk mewariskan nilai-nilai luhur perjuangan,
c.   Museum Pusat TNI-AL Loka Jala Crana secara visual menggambarkan perjuangan Bangsa Indonesia, khususnya TNI-AL dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan NKRI.

a.   Dengan mengenal benda-benda bersejarah, tanamkanlah dalam diri kita jiwa dan semangat kepahlawanan,
b.  Lestarikan dan peliharalah peninggalan-peninggalan sejarah agar tidak sampai hilang dan rusak,

Demikian saran-saran yang dapat penulis kemukakan, semoga bermanfaat untuk kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar